Televisi ternyata memberikan dampak
yang luar biasa bagi anak-anak. Menurut catatan KPID Jawa Timur, anak Indonesia
rata-rata menonton televisi selama 30-35 jam dalam sepekan. Benar-benar waktu
yang lebih lama dari waktu belajarnya di sekolah. Dengan waktu menonton yang
cukup lama tersebut, membuat anak lebih mudah terobsesi dengan apa yang
dilihatnya di televisi.
Tidak
semua orang tua menyadari dampak buruk televisi. Bagi yang tidak sadar,
cenderung melakukan pembiaran bagi anak-anaknya untuk melihat tontonan yang ada
di televisi, sepanjang anak tersebut masih ada di dalam rumah dan masih bisa
diawasi oleh orang tua. Entah program yang dilihat tersebut memang cocok untuk
anak-anak atau tidak. Karena meskipun yang dilihat anak adalah film kartun tapi
di dalamnya masih memuat kekerasan, atau perkelahian. Apalagi yang ditonton
tidak hanya film kartun saja tetapi film-film atau sinetron-sinetron yang di
dalamnya mengandung intrik-intrik, konspirasi atau hanya mengumbar mimpi-mimpi
indah. Dan menurut hasil survei yang dilakukan oleh para ahli, seringkali
anak-anak yang mempunyai perilaku nakal, suka mengganggu anak lainnya, berlaku
kasar adalah anak-anak yang paling banyak menonton hiburan kekerasan.
Tetapi bagi orang tua yang sadar
benar dengan perkembangan anaknya akan memperhatikan secara sungguh-sungguh apa
yang sedang ditonton anak-anak mereka, apakah tontonan tersebut memang cocok
untuk perkembangan psikologi anaknya atau tidak.
Dampak lainnya nyaitu :
· Berpengaruh Terhadap Perkembangan
Otak
Terhadap
perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan
bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat
kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan
agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan
antara realitas dan khayalan.
· Mendorong Anak Menjadi Konsumtif
Anak-anak
merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi
konsumtif
· Berpengaruh Terhadap Sikap
Anak
yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar
kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi
berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama
dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan
dapat terbawa hingga mereka dewasa.
· Mengurangi
semangat belajar
Bahasa
televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak
menjadi malas belajar
· Membentuk
pola pikir sederhana
Terlalu
sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola
pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan
mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan
kognitifnya
· Mengurangi
konsentrasi
Rentang
waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan
dapat membatasi daya konsentrasi anak.
· Mengurangi
kreativitas
Dengan
adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang
individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal
memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan,
seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan
menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak
dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak
tidak kreatif.
· Meningkatkan
kemungkinan obesitas (kegemukan)
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
· Merenggangkan
hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan
anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama
bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga
menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang
’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan
keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di
TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih
memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara
yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.
· Matang
secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual
ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan
hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV
yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara
seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak
yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa
yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak
menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin
ketat antar Media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab
sosial,moral & etika.
Pemecahan masalah:
- Dampingi anak ketika menonton televisi. Berikan pengertian seputar apa yang sedang ditontonnya. Bila ada muatan kekerasan didalamnya, beri pengertian bahwa hal tersebut tidak baik
- Agar anak dapat mengalihkan konsentrasinya pada kebiasaan menonton televisi, lebih baik jika Anda berikan buku-buku bacaan atau Anda bisa mengajak untuk melakukan kegiatan di luar rumah tentunya dengan pengawasan Anda.
- Pilihlah tayangan berita di televisi yang tidak mengandung unsur pornografis, kekerasan dan hedonisme.
- Tentukan dan bedakan waktu menonton televisi bagi anak-anak, remaja, dan yang sudah dewasa.
- Usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak.
- Alihkan perhatian dan kegemaran anak serta remaja dalam keluarga dari kecanduan menyaksikan acara televisi yang ditayangkan setiap hari kepada bentuk-bentuk kegiatan dan kesenangan baru yang positif.
·
Oleh :
·
Nama : Ika Rikatriana
·
Nim : 0901424

